Ruang yang Lain

rentang
/1/

apakah kau tak usai dengan segala tualang?
kemudian lupa untuk pulang?

sebab jalan setapak yang kubuat dipenuhi bangkai layang-layang
yang telah membumbung jauh melupa jarak
pada kawanan awan yang terarak
menjadi rekah pancarona
menjadikan langit violet pudar pastel
membuat mata dipenuhi pana dan mencari tustel

entah berapa lama aku memainkan benang
terulur hingga meliuk
berakhir menjadi rasi biduk
dan sejauh yang kaupandang hanya terlihat ringkuk
kupikir benang yang patah tak mungkin tumbuh
hanya terbagi dua sisi tak utuh
lalu saling menjauh
lebih jauh dari kata jauh hingga dipenuhi rikuh
juga- menjadi rekah pancarona
menghunus jarak jutaan tahun cahaya
menjadi supernova

rintang
/2/

ajal yang tertulis sejak azali
tidak pernah tertulis dengan kuas penuh kuasa,
namun dengan pena bulu angsa dan pembatas buku bunga azalea
ditulis dengan hidu mewangi
tapi barangkali tuhan alergi -dengan bunga
lalu mengutuknya turun ke bumi
dan menjadi alasan adam menakhlukkan api
untuk membangun sebuah tamanan surga -yang katamu eden, aku: adnin
yang hanya berisi bunga azalea
hingga adam menemui ajal

bentang
/3/
tapi bukankah hujan hanyalah cara tuhan menanam awan pada tanah?
sehingga bunga azalea dapat kuncup dan rekah
memberi ruang bagi cinta yang marah
sehingga tualang temui pulangnya
sehingga puisi nyenyak tidurnya

Advertisements

Yang Ikut Pudar Bersama Waktu

yang ikut pudar bersama waktu–
jika yang kau maksud ruang, aku akan menunggu

yang ikut padam bersama api–
jika yang kau maksud abu, aku akan menggenapi

yang ikut tersapu bersama ombak–
jika aku selalu salah, aku akan terus menebak

yang ikut hilang bersama kenang–
jika bagimu ini permainan, kau saja yang menang

yang ikut lenyap bersama amarah–
sudah kubilang, aku telah mengalah

yang ikut meleleh bersama air mata–
aku lelah, kau selalu tergesa

yang ikut hancur bersama puisi–
hey! itu pertanyaan milikku

Of Those

you’ll be alive, love

of those our trembled daily desires

of those empires we had yerteryear

of those remembrances

of those improper dances

 

yet we still alive

aloft,

resting, alongside the river

inside our deepest darkest fear

of those smirks and the leer

 

thought of your worst nightmare you can imagine;

multiply it twice;

i was there holding knife

will you stay and say something nice?

cause fate is nothing but a dice

 

of those memories we dismember from our shared reality

of those predicament tragedy

of those bills we can’t pay

of those words I can’t say

of those broken wings I can’t fix

of those room number three-o-six

of those melodies you can’t sing

of those past-ghosts we have seen

 

yet we still alive

aloft, alongside the ravine

yet we stop talking

of those stories of the queen and the king

of those relinquished crowns

of those hanging frowns

 

thought of your best dream you can imagine;

multiply it by zero;

i’am a fucking pawn not hero

 

i had have enough of you

 

2017

 

Dua Mengenai Jarak

/1/
semenjak ibu pergi
rumah ini dihuni api
dengan aku sebagai bara
entah kapan ibu akan kembali
aku tidak ingin menyusulnya dalam waktu dekat
sebab kupikir tak akan sempat

aku, telah pergi terlalu jauh sebelum ibu pergi
aku hanya punya pertanyaan kecil saja
apakah ibu pergi untuk datang menjemputku?
dan jika benar aku akan kembali, ke mana aku harus bepergi?
sebab kurasa tak ada lagi tempat untuk berlari

di hadapan api unggun
aku mulai menyadari
ibuku bukan ibu yang anggun
juga bukan ibu yang menyayangi
hanya ibu yang jaraknya satu inci lebih jauh dari satu tahun cahaya
dan semakin menjauh aku mulai menuju ke sana

semenjak aku berbicara mengenai ibu, ayahku juga pergi
semenjak aku menginjak-injak mereka dengan sajak
selalu dalam kepala terdengar suara kecil yang menyeruak
aku hanya ingin menjerit dan berteriak
namun aku tak ingin keduanya kembali terjaga
sebab mulutku terbungkam jarak pada ruang

maksudku,
tuan,

berapa jarak terjauh yang mampu ditempuh api tanpa adanya angin?

kemudian dimensi memudar
ruang dan waktu terulur menjadi lingkar
menjadi titik api

ya,
api unggun itu mulai membakar sebuah arah yang kusebut rumah
barangkali aku harus kembali berkemas dan kembali berkemah

/2/
membuka mata yang telah lelah
kutemui diriku menatap langit-langit yang asing
pada tenda-tenda yang usang
pada sumur tua yang tercemar merkuri dan kobalt
juga pada kota tua yang semakin berkarat

mengucap mantra mengenai lelah
kutemui pijakan-pijakan yang dipenuhi ketar
dan bukankah kehilangan hanyalah kenangan yang ganjil?
yang selalu kau temukan saat membaca segala ayat di injil

kau, selalu menginjak tanah tanpa mengetahui keterinjakan yang ia tangisi
hingga pada akhirnya tanah memilih untuk ada dan menjadi adam
meski dipenuhi api yang tak mungkin padam
berwujud rindu dan dendam
dan berakhir menjadi alasan mengapa bumi selalu berkitar dalam diam

Sinar

bulan pucat pasi terpapar sinar gamma
kemudian memuai pada cermin-cermin ingatan di kepala

iris, entah apa
akur, entah siapa

sisanya hilang ingatan
mencoba mengingat kembali jemarimu di antara gigi-gigi itu
yang ada hanya kitar sebentar hujam jam yang jarumnya terserak hanyut pada tumpukan jerami
menyisakan jarum detik sendiri

bulan pucat pasi terpasung sinar alfa
kemudian memuai pada kertak gigi yang menggigil

erat, entah mengapa
hablur, entah bilamana

sisanya renta terantuk usia
mencoba melawan ulat waktu yang membuat ruang menua

bulan tak pucat terpasang tepat di antara kedua bola pejal yang kau sebut mata
tempat aku mengingkari kata mati
kemudian hidup kembali
menjadi arti yang lainnya
menjadi non-hakiki seketika

Rikuh-akatalepsia

kau yakinkan angin tuk tiup jauh inginmu pada cicit burung sentali

sebab hatimu bara, angin bertiup sehingga ragamu porak poranda

membakar jiwamu yang penuh noktah rahsia

 

kau yakinkan api tuk didihkan air matamu malam ini

sebab matamu bening telaga dan mataku kelam jelaga

meski mampu melihat terang dalam gelapnya sukma

 

kau yakinkan air tuk membasuh luka-luka di langit

sebab kita telah jatuh di bumi, dan menjelagra memahat prahara

lahirlah prasangka pada pencipta

 

kau yakinkan tanah tuk menjadi adam

sebab engkau hawa, ular tengah berbisik di balik jubah penuh ancam

lahirlah rindu-dendam

 

kau yakinkan aku tuk menjadi ada

sebab jiwamu nirleka

tak satupun manusia mampu membacanya

hingga Tuhan mengutus puisi sejak zaman azali

kemudian menjadi sebab mengapa cerah langit bak lapislazuli

 

kau yakinkan waktu dan jarak menjadi niscaya

sebab mustahil manusia tak jatuh cinta pada rumah sakit jiwa dan berkaca pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terhingga

rumah sakit jiwa, oktober 2016