Yang Ikut Pudar Bersama Waktu

yang ikut pudar bersama waktu–
jika yang kau maksud ruang, aku akan menunggu

yang ikut padam bersama api–
jika yang kau maksud abu, aku akan menggenapi

yang ikut tersapu bersama ombak–
jika aku selalu salah, aku akan terus menebak

yang ikut hilang bersama kenang–
jika bagimu ini permainan, kau saja yang menang

yang ikut lenyap bersama amarah–
sudah kubilang, aku telah mengalah

yang ikut meleleh bersama air mata–
aku lelah, kau selalu tergesa

yang ikut hancur bersama puisi–
hey! itu pertanyaan milikku

Advertisements

Of Those

you’ll be alive, love

of those our trembled daily desires

of those empires we had yerteryear

of those remembrances

of those improper dances

 

yet we still alive

aloft,

resting, alongside the river

inside our deepest darkest fear

of those smirks and the leer

 

thought of your worst nightmare you can imagine;

multiply it twice;

i was there holding knife

will you stay and say something nice?

cause fate is nothing but a dice

 

of those memories we dismember from our shared reality

of those predicament tragedy

of those bills we can’t pay

of those words I can’t say

of those broken wings I can’t fix

of those room number three-o-six

of those melodies you can’t sing

of those past-ghosts we have seen

 

yet we still alive

aloft, alongside the ravine

yet we stop talking

of those stories of the queen and the king

of those relinquished crowns

of those hanging frowns

 

thought of your best dream you can imagine;

multiply it by zero;

i’am a fucking pawn not hero

 

i had have enough of you

 

2017

 

Dua Mengenai Jarak

/1/
semenjak ibu pergi
rumah ini dihuni api
dengan aku sebagai bara
entah kapan ibu akan kembali
aku tidak ingin menyusulnya dalam waktu dekat
sebab kupikir tak akan sempat

aku, telah pergi terlalu jauh sebelum ibu pergi
aku hanya punya pertanyaan kecil saja
apakah ibu pergi untuk datang menjemputku?
dan jika benar aku akan kembali, ke mana aku harus bepergi?
sebab kurasa tak ada lagi tempat untuk berlari

di hadapan api unggun
aku mulai menyadari
ibuku bukan ibu yang anggun
juga bukan ibu yang menyayangi
hanya ibu yang jaraknya satu inci lebih jauh dari satu tahun cahaya
dan semakin menjauh aku mulai menuju ke sana

semenjak aku berbicara mengenai ibu, ayahku juga pergi
semenjak aku menginjak-injak mereka dengan sajak
selalu dalam kepala terdengar suara kecil yang menyeruak
aku hanya ingin menjerit dan berteriak
namun aku tak ingin keduanya kembali terjaga
sebab mulutku terbungkam jarak pada ruang

maksudku,
tuan,

berapa jarak terjauh yang mampu ditempuh api tanpa adanya angin?

kemudian dimensi memudar
ruang dan waktu terulur menjadi lingkar
menjadi titik api

ya,
api unggun itu mulai membakar sebuah arah yang kusebut rumah
barangkali aku harus kembali berkemas dan kembali berkemah

/2/
membuka mata yang telah lelah
kutemui diriku menatap langit-langit yang asing
pada tenda-tenda yang usang
pada sumur tua yang tercemar merkuri dan kobalt
juga pada kota tua yang semakin berkarat

mengucap mantra mengenai lelah
kutemui pijakan-pijakan yang dipenuhi ketar
dan bukankah kehilangan hanyalah kenangan yang ganjil?
yang selalu kau temukan saat membaca segala ayat di injil

kau, selalu menginjak tanah tanpa mengetahui keterinjakan yang ia tangisi
hingga pada akhirnya tanah memilih untuk ada dan menjadi adam
meski dipenuhi api yang tak mungkin padam
berwujud rindu dan dendam
dan berakhir menjadi alasan mengapa bumi selalu berkitar dalam diam

Sinar

bulan pucat pasi terpapar sinar gamma
kemudian memuai pada cermin-cermin ingatan di kepala

iris, entah apa
akur, entah siapa

sisanya hilang ingatan
mencoba mengingat kembali jemarimu di antara gigi-gigi itu
yang ada hanya kitar sebentar hujam jam yang jarumnya terserak hanyut pada tumpukan jerami
menyisakan jarum detik sendiri

bulan pucat pasi terpasung sinar alfa
kemudian memuai pada kertak gigi yang menggigil

erat, entah mengapa
hablur, entah bilamana

sisanya renta terantuk usia
mencoba melawan ulat waktu yang membuat ruang menua

bulan tak pucat terpasang tepat di antara kedua bola pejal yang kau sebut mata
tempat aku mengingkari kata mati
kemudian hidup kembali
menjadi arti yang lainnya
menjadi non-hakiki seketika

Rikuh-akatalepsia

kau yakinkan angin tuk tiup jauh inginmu pada cicit burung sentali

sebab hatimu bara, angin bertiup sehingga ragamu porak poranda

membakar jiwamu yang penuh noktah rahsia

 

kau yakinkan api tuk didihkan air matamu malam ini

sebab matamu bening telaga dan mataku kelam jelaga

meski mampu melihat terang dalam gelapnya sukma

 

kau yakinkan air tuk membasuh luka-luka di langit

sebab kita telah jatuh di bumi, dan menjelagra memahat prahara

lahirlah prasangka pada pencipta

 

kau yakinkan tanah tuk menjadi adam

sebab engkau hawa, ular tengah berbisik di balik jubah penuh ancam

lahirlah rindu-dendam

 

kau yakinkan aku tuk menjadi ada

sebab jiwamu nirleka

tak satupun manusia mampu membacanya

hingga Tuhan mengutus puisi sejak zaman azali

kemudian menjadi sebab mengapa cerah langit bak lapislazuli

 

kau yakinkan waktu dan jarak menjadi niscaya

sebab mustahil manusia tak jatuh cinta pada rumah sakit jiwa dan berkaca pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terhingga

rumah sakit jiwa, oktober 2016

 

Mengenai Etika Sekuler dan Antipati Struktural

Mengenai Etika Sekuler dan Antipati Struktural.
 
Dalam kajian aksiologi, filsafat menaruh perhatian yang sangat ekstra mengenai asal-usul etika. Semua berawal dari sebuah pertanyaan pendek: Darimana etika berasal?
 
Jawaban paling simpel adalah menjawab dari sudut pandang biologis: Sebab manusia memiliki neokorteks yang memungkinkan memikirkan hal-hal kompleks seperti etika itu sendiri. Kompleksitas neokorteks mempersepsi keberadaan manusia dan budaya sebagai dua hal yang tak terpisahkan.
 
Namun jawaban akan menjadi semakin kompleks ketika memandang etika sebagai suatu wacana tersendiri yang harus dijauhkan dari posisinya terhadap kesadaran.
 
Tapi saya tidak ingin berbicara mengenai relasi antara etika dengan kesadaran maupun ketidaksadaran. Saya lebih ingin memulainya dengan sebuah narasi pendek yang kemudian akan saya buat kesimpulannya dengan analogi yang setingkat.
 
Sederhananya, etika itu sendiri merupakan ilmu mengenai moral. Moral kolektif yang terinstitusi secara kultural biasa disebut norma. Norma yang terlegitimasi oleh kuasa negara di atas kertas biasa kita sebut dengan kata ‘hukum’.
 
Dua kodeks moral paling kuno yang tercatat sejarah adalah kodeks Hammurabi dari Babilonia dan 10 perintah Tuhan yang dinubuatkan kepada Musa untuk Bangsa Israel. Kodeks Hammurabi lebih mirip hukum negara dibanding 10 perintah Tuhan yang lebih cenderung bersifat transeden, sakral dan religius.
 
Dalam keberjalanan sejarah, kedua kodeks tersebut tidak bisa dibandingkan sebagai kodeks setingkat sebab proses terbentuknya berbeda. Kodeks Hammurabi merupakan undang-undang kerajaan yang merupakan norma yang terkodifikasi dan sebagian isinya merupakan turunan dari kepercayaan politeisme pagan setempat sedangkan 10 perintah Tuhan murni merupakan pedoman yang sifatnya langsung turun-dari-langit dan merupakan intervensi Tuhan terhadap ciptaanNya.
 
Pertanyaan yang kemudian lahir adalah apakah manusia-manusia pada periode sebelum itu tidak memiliki moral? Jelas jawabannya adalah ya dan tidak. Kebakuan etika untuk menilai moral adalah perdebatan yang sifatnya perennial. Sejak ribuan tahun yang lalu sudah diperdebatkan kaum stoik, para bangsawan, raja-ratu, cendikiawan, orang suci, agamawan, pencuri, pelacur dan lainnya.
 
Intinya, moral bisa datang dari semesta ekternal manusia (termasuk intervensi Tuhan) maupun internalitas manusia itu sendiri sehingga hadirlah corak etika yang sifatnya kultural (contoh: tabu, mores, norma, dll). Jika dikerucutkan, etika terbagi menjadi etika religius dan etika sekuler, keduanya telah menjadi pedoman bagi manusia-manusia sebelum kita.
 
Namun sekali lagi saya tidak ingin membahas etika religius dan etika sekuler lebih jauh, apalagi menghubungkannya dengan politik Indonesia mutakhir. Sebabnya jelas, kedunguan epistemik (berupa selalu berpikir hirarki) semakin lekat pada pribumi sejak globalisasi kekerasan via kolonialisme barat. Sudah banyak buku yang menjelaskan mengenai itu.
 
Kebodohan struktural
 
Seorang petani yang malas di antara petani-petani yang rajin, besar kemungkinannya untuk miskin. Jika dibaca melalui psikologi sederhana, mungkin kemalasan petani tersebut adalah penyebab kemiskinannya. Lain halnya apabila seluruh petani rajin dalam suatu daerah semuanya miskin terlepas serajin apa mereka menggarap lahannya, maka jelas ini bukan lagi masalah psikologi melainkan masalah tatanan, alias struktural. Bisa jadi merupakan masalah sosioekonomi: tengkulak, subsidi, akses distribusi pupuk, dll. Para akademikus lebih suka memberi label kemiskinan struktural pada kasus seperti ini.
 
Apabila ditemui seseorang merokok di ‘non-smoking area’ bisa dipastikan dua hal: bisa jadi tidak bisa membaca atau tidak peduli (egoisme) dengan hukum yang berlaku, sebab tidak ada hukuman yang jelas. Dan sekali lagi ini merupakan masalah psikologi karena ada ketidakcocokan antara ego seorang tersebut dengan superego pribadinya yang terkonstruksi karena pembiaran yang repetitif.
 
It’s a bit tricky but here’s the next. Apabila suatu masyarakat modern memandang merokok di sembarang tempat adalah hal yang wajar, maka jelas ini merupakan masalah psikologi yang kolektif, dengan kata lain: masalah sosial. Singkat kata, dengan analogi setingkat pada paragraf sebelumnya, hal seperti ini bisa dikatakan adalah kebodohan struktural.
Namun saya tidak sepakat dengan kata kebodohan struktural. Mengapa? Kira-kira akan saya jabarkan seperti berikut:
 
Wacana studi budaya memiliki banyak ‘teks intellectual gimmick’ untuk membahas masalah tersebut. Sebut saja Foucault yang menggunakan kata ‘episteme’ untuk menjabarkan proses kognitif kolektif yang sifatnya sadar. Dengan kata lain episteme yang dimaksud Foucault sangat mirip dengan makna ‘paradigma kolektif’, bahkan dengan konteks tertentu dekat sekali dengan kata zeitgeist alias jiwa/ruh zaman.
 
Di sini, saya memiliki sebuah tesis bahwa kebodohan struktural tersebut lekat sekali konsep Foucault dengan episteme, namun dengan penekanan episteme-yang-tercuri-afeksinya. Maka frasa yang cocok untuk menjelaskan fenomena egoisme berjamaah tersebut bukanlah kebodohan struktural, namun antipati struktural yang sangat berbahaya apabila suatu hari diterima sebagai norma.
 
Saya, pribadi, sangat tidak mempermasalahkan masyarakat yang bodoh, sebab bodoh memiliki obat yang mujarab yaitu dengan belajar atau jika memang sudah belajar namun tetap salah ia mengakui kesalahan dan mau belajar kembali. Dengan proses belajar maka yang bodoh itu suatu hari akan menjadi tidak bodoh.
 
Yang perlu mempermasalahkan adalah masyarakat yang egois. Tidak ada obat mujarab untuk egoisme selain hal-hal yang sifatnya perseorangan, entah kejadian traumatis atau berkaitan dengan kegiatan afeksi inter-personal entah karena nasihat teman baik atau jatuh hati kepada seorang yang memiliki nilai moral tinggi atau justru kematian orang-orang terdekatnya karena perilaku antipatinya yang ia anggap biasa saja.
 
Happy Ramadan, Folks.